Jumat, 26 Desember 2008

Batoro Katong dalam Tradisi Lesan

Sejarah lesan, yang berkembang dari mulut ke mulut satu generasi selanjutnya menjadi penting posisinya, terutama dalam kaitan analisis psiko historis. Karena dari sejarah lesan, yang berkembang inilah muncul imajinasi, struktur keyakinan dan nilai masyarakat. Terlepas, dari apakah sejarah lesan tidak merupakan hasil obyektif dari penelitian sejarah? atau sering bercampur dengan berbagai mitologi? Sejarah yang berkembang lewat tradisi lesan, bahkan menjadi semacam belief sebagaimana telah di sebutkan di atas. Dibawah ini akan, mencoba di deskripsikan beberapa hasil investigasi, penelitian dokumen yang kesemuanya tidak lain adalah pernyataan lesan beberapa tokoh dan sesepuh dimasing-masing komunitas di Ponorogo.

Sebagaimana telah di ulas di awal tulisan ini bagi masyarakat Ponorogo, Batoro Katong adalah tokoh dan penguasa pertama yang paling legendaris dalam masyarakat Ponorogo. Sampai saat ini Batoro Katong adalah simbol kekuasaan politik yang terus dilestarikan oleh penguasa didaerah ini dari waktu ke waktu. Tidak ada penguasa Ponorogo, yang bisa melepaskan dari figur sejarah legendaris ini.

Batoro Katong, memiliki nama asli Lembu Kanigoro, tidak lain adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya V dari selir yakni Putri Campa yang beragama Islam. Mulai redupnya kekuasaan Majapahit, saat kakak tertuanya, Lembu Kenongo yang berganti nama sebagai Raden Fattah, mendirikan kesultanan Demak Bintoro. Lembu Kanigoro mengikut jejaknya, untuk berguru dibawah bimbingan Wali Songo di Demak. Brawijaya V yang pada masa hidupnya berusaha di Islamkan oleh wali Songo, para Wali Islam tersebut membujuk Prabu Brawijaya V dengan menawarkan seorang Putri Campa yang beragama Islam untuk menjadi Istrinya.

Walaupun kemudian Prabu Brawijaya sendiri gagal untuk di Islamkan, tetapi perkawinannya dengan putrid Campa mengakibatkan meruncingnya konflik politik di Majapahit. Diperistrinya putri Campa oleh Prabu Brawijaya V memunculkan reaksi ‘protes’ dari elit istana yang lain. Sebagaimana dilakukan oleh seorang punggawanya bernama Pujangga Anom Ketut Suryongalam. Seorang penganut Hindu, yang berasal dari Bali. Tokoh yang terakhir ini, kemudian ‘desersi’ untuk keluar dari Majapahit, dan membangun peradaban baru di tenggara Gunung Lawu. Ki Ageng Ketut Suryangalam ini kemudian di kenal sebagai Ki Ageng Kutu atau Demang Kutu. Dan daerah yang menjadi tempat tinggal Ki Ageng Kutu ini namakan Kutu, kini merupakan daerah yang terdiri dari beberapa desa di wilayah Kecamatan Jetis.

Ki Ageng Kutu-lah yang kemudian menciptakan sebuah seni Barongan, yang kemudian disebut Reog. Dan reog tidak lain merupakan artikulasi kritik simbolik Ki Ageng Kutu terhadap raja Majapahit (disimbolkan dengan kepala harimau), yang ditundukkan dengan rayuan seorang perempuan/Putri Campa (disimbolkan dengan dadak merak). Dan Ki Ageng Kutu sendiri di simbolkan sebagai Pujangga Anom atau sering di sebut sebagai Bujang Ganong, yang bijaksana walaupun berwajah buruk.

Pada akhirnya, upaya Ki Ageng Kutu untuk memperkuat basis di Ponorogo inilah yang pada masa selanjutnya di anggap sebagai ancaman oleh kekuasaan Majapahit. Dan selanjutnya pandangan yang sama dimiliki juga dengan kasultanan Demak, yang nota bene sebagai penerus ‘kejayaan’ Majapahit walaupun dengan warna Islamnya. Sunan Kalijaga, bersama muridnya Kiai Muslim (atau Ki Ageng Mirah) mencoba melakukan ‘investigasi’ terhadap keadaan Ponorogo, dan mencermati kekuatan-kekuatan yang paling berpengaruh di Ponorogo. Dan mereka menemukan Demang Kutu sebagai penguasa paling berpengaruh saat itu. Demi kepentingan ekspansi kekuasaan dan Islamisasi, penguasa Demak mengirimkan seorang ‘putra terbaiknya’ yakni yang kemudian di kenal luas dengan Batoro Katong dengan salah seorang santrinya bernama Selo Aji dan diikuti oleh 40 orang santri senior yang lain. Saat Batoro Katong datang memasuki Ponorogo, kebanyakan masyarakat Ponorogo adalah penganut Budha, animisme dan dinamisme.

Singkat cerita, terjadilah pertarungan antara Batoro Katong dengan Ki Ageng Kutu. Ditengah kondisi yang sama sama kuat, Batoro Katong kehabisan akal untuk menundukkan Ki Ageng Kutu. Kemudian dengan ‘akal cerdasnya’ Batoro Katong berusaha mendekati putri Ki Ageng Kutu yang bernama Niken Gandini, dengan di ‘iming-imingi’ akan di jadikan istri.

Kemudian Niken Gandini inilah yang ‘dimanfaatkan’ Batoro Katong untuk mengambil pusaka Koro Welang, pusaka pamungkas dari Ki Ageng Kutu. Pertempuran berlanjut dan Ki Ageng Kutu menghilang, pada hari Jumat Wage di sebuah pegunungan di daerah Wringin-Anom Sambit Ponorogo. Hari ini oleh para pengikut Kutu dan masyarakat Ponorogo (terutama dari abangan), menganggap hari itu sebagai hari naas-nya Ponorogo. Tempat menghilangnya Ki Ageng Kutu ini di sebut sebagai Gunung Bacin, terletak di daerah Bungkal. Batoro Katong kemudian, mengatakan bahwa Ki Ageng Kutu akan moksa dan terlahir kembali di kemudian hari. Hal ini di mungkinkan dilakukan untuk meredam kemarahan warga atas meninggalnya Ki Ageng Kutu.

Setelah ‘dihilangkannya’ Ki Ageng Kutu, Batoro Katong mengumpulkan rakyat Ponorogo dan berpidato bahwa dirinya tidak lain adalah Batoro, manusia setengah dewa. Hal ini dilakukan, karena Masyarakat Ponorogo masih mempercayai keberadaan dewa-dewa, dan Batara. Dari pintu inilah Katong kukuh menjadi penguasa Ponorogo, mendirikan istana, dan pusat Kota. dan kemudian melakukan Islamisasi Ponorogo secara perlahan namun pasti. Kesenian Reog yang menjadi seni perlawanan masyarakat Ponorogo mulai di eliminasi dari unsur-unsur pemberontakan, dengan menampilkan cerita fiktif tentang Kerajaan Bantar Angin sebagai sejarah reog. Membuat kesenian tandingan, semacam jemblungan dan lain sebagainya. Para punggawa dan anak cucu Batoro Katong, inilah yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren sebagai pusat pengembangan agama Islam.

Dalam konteks inilah, keberadaan Islam sebagai sebuah ajaran, kemudian bersilang sengkarut dengan kekuasaan politik. Perluasan agama Islam, membawa dampak secara langsung terhadap perluasan pengaruh, dan berarti juga kekuasaan. Dan Batoro Katonglah yang menjadi figur yang di idealkan, penguasa sekaligus ‘ulama. Pelacakan ‘genealogi’ kultur politik pesantren dan elite Ormas Islam di Ponorogo, setidaknya dapat dimulai dari titik ini.

Dan terdapat dua konklusi penting yang menurut penulis dapat ditarik upaya Batoro Katong yakni: pertama, upaya meraih kekuasaan (berpolitik praktis) tidak lain adalah bagian dari misi suci ‘berdakwah’ melalui politik. Kedua, mereka yang memiliki kultur berbeda, dan dianggap seringkali berlawanan dengan nilai agama, berarti juga adalah musuh secara politis yang harus ‘di kuasai’ dan kemudian ‘di beradabkan’. Ketiga, untuk melakukan proses memberadabkan masyarakat melalui agama, dan melakukan proses penjinakan-penjinakan unsur-unsur subversif yang ada dalam masyarakat Ponorogo (misal: penjinakan Reog).

(Kepala Divisi Penerbitan P3M INSURI PONOROGO,


Reyog dan Persaingan Pasar

Sebagai awal perayaan HUT 715 kota Surabaya, Minggu 27-4-2008 warga Surabaya dihibur tontonan konvoi karnaval yang meriah dan murah, meriah sebab iringan pawai di ikuti berbagai komponen bangsa, ada TNI-AL, DKP, iringan kendaraan berhias bunga, dan terakhir 10 dadak Merak Reog Ponorogo, murah sebab bisa ditonton warga Surabaya tanpa dipungut karcis.

Inisiatif Wali Kota Surabaya Bambang DH merayakan HUT dengan acara yang memberikan hiburan bagi warga kota sungguh sangat “pas”, mengingat fakta akhir – akhir ini warga Surabaya banyak dipusingkan dengan berbagai masalah seperti naiknya harga – harga sembako dll. Dalam ilmu ekonomi disebut Human Invesment, membikin warga Surabaya riang dan gembira agar besok kerja lebih giat dan produktifitas kerja meningkat.

Pesatuan unit – unit Reog Ponorogo Surabaya sangat senang dan bangga karena pada event konvoi itu Reog Ponorogo yang sudah diakui di dunia sebagai tari topeng terbesar di dunia bisa tampil secara tunggal tanpa diikuti tari topeng lainnya yang sebenarnya adalah produk jasa impor. Tari Topeng ukuran besar selain Reog Ponorogo yang dari aspek ekonomi adalah produk jasa asal impor menjadi “pesaing berat” bagi tari topeng produk asli domestik seperti Reog Ponorogo, sebab tari topeng asal import tersebut dengan rakus merebut segmen pasar yang seharusnya bisa di nikmati tari topeng asli dalam negeri seperti Reog. Dikatakan “pesaing berat” disebabkan tari impor cukup dimainkan 5-10 orang, sedangkan tari topeng Reog Ponorogo dimainkan 50-60 orang dengan perbandingan labor/pekerja ini secara hitungan bisa dikalkulasi bahwa jika honor yang diterima kedua kelompok tersebut sama, misal Rp. 2 juta sekali atraksi, dan honor tersebut dibagi ke pekerja tari topeng asal impor akan menerima jumlah rupiah yang jauh lebih besar daripada yang diterima labor/pekerja tari topeng Reong Ponorogo, dengan kata lain labor/pekerja tari topeng asal impor lebih makmur. Dengan demikian tari topeng asal impor bisa memiliki daya tahan dan daya saing (power to compete) yang lebih kuat daripada daya saing Reog Ponorogo.

Unit – unit Reog yang diharapkan bangsa indonesia bisa melestarikan seni budaya warisan leluhur, kenyataannya menampilkan fenomena yang sangat memprihatinkan dimana unit – unit Reog di negerinya sendiri jungkir balik bertahan dan bahkan sebagian sekarat memperebutkan segmen pasar yang dengan rakus dimakan oleh tari impor. Sebenarya honor yang ideal untuk tari topeng Reog Ponorogo minimal adalah Rp 3-4 juta per atraksi, mengingat ongkos untuk mengangkat dadak merak, gamelan dan lain – lain yang dikeluarkan untuk menggelar satu atraksi cukup besar.

Tarif tersebut bisa saja ditekan menjadi Rp 2 juta per atraksi dengan cara menekan cost yang harus di keluarkan apalagi jika order atau job mentok, maka dengan teori analisa break even point biaya atau honor per atraksi bisa makin diturunkan. Bahasa warungnya “bathi setitik ora opo, asal payune meler” order atau job main bagi tari topeng Reog Ponorogo akan meningkat dan melonjak naik tentu saja jika tidak ada pesaing dari tari topeng asal impor tersebut. Disisi lain cost yang harus di keluarkan asal impor jauh lebih ringan, karena topengnya cukup diangkat pakai pick up kecil, pemain tidak perlu ke salon sebab sudah tertutup topengnya jadi tanpa biaya salon, biaya konsumsi juga kecil, jumlah labor/pekerja juga sedikit, jadi power to compete atau daya saing tari topeng asal impor jauh lebih kuat.

Dalam posisi biaya pokok seperti tersebut diatas unit – unit Reog tidak akan mampu bersaing di pasar bebas menghadapi tari impor yang posisi biaya pokoknya jauh lebih rendah dan lebih profitable, belum lagi jika tari topeng asal impor memainkan price policy yakni dengan membanting harga jual honornya menjadi Rp 1 juta atau Rp 500 atau digratiskan sekalipun per atraksi dia masih mampu bertahan, ini disebabkan karena pemilik tari topeng asal impor menganggap usaha tari topengnya sebagai penghasilan tambahan saja atau sebagai hobi saja. Bandingkan dengan unit Reog yang menjadikan usaha tari topeng sebagai andalan utama guna menunjang biaya hidup seluruh keluarganya.

Dari analisa sederhana ini dapat disimpulkan unit – unit Reog Ponorogo akan tersingkir dari pasar persaingan pasar bebas. Data Sejas tahun 2002-2007 volume penjualan Reog selam tujuh tahun merosot 50-60 persen, maka berapa tahun yang dibutuhkan untuk menghabiskan sisanya?. Jika gejala ini merata di seluruh Tanah Air maka Reog Ponorogo akan tersingkir dari pasar persaingan entertainment domestik, dengan kata lain Reog Ponorogo akan musnah di negerinya sendiri.

Lalu mengapa produk jasa domestik Reog Ponorogo tidak dilindungi terhadap serangan tari topeng asal impor? Sebagai contoh bacalah SK Menperindag RI No.229/MPP/Kep/7/1997 tanggal 4-7-1997, SK No.230/MPP/Kep/7/1997, SK No.732/MPP/Kep/10/2002, SK No.756/MPP/Kep/12/2003, SK No.9/MPP/Kep/1/2004, Baca juga SK Menkeu RI.545/KMK.01/2003, SK No.546/KMK.01/2003, SK No.547/KMK.01/2003, surat edaran dir Bea Cukai No.SE.10/BC/2005, Peraturan Dirjen BCNo.08/BC/2005 dan lainnya yang kesemuanya mengatur dengan tertib dan rapi arus barang impor masuk ke Indonesia.

Di Malaysia, TKI kita yang bagi Malaysia adalah produk jasa tenaga kerja impor juga diatur dan diawasi dengan ketat oleh pemerintahnya, kalau dirasa kehadirannya mengganggu stabilitas supply-demand di pasar tenaga kerja domestik, atau alasan kepentingan nasional lainnya, maka TKI kita yang adalah penjual jasa tenaga kerja akan dipulangkan, dideportasi, diusir dari bumi Malaysia, demikian pula tindakan pemerintah di berbagai negara lainnya. Semua barang jasa dan impor yang membahayakan kelangsungan hidup industri dalam negeri (supply side) serta yang membahayakan consumen dalam negeri (demand side) harus diatur, diawasi, kalau perlu dilarang.

Maka pernyataan perlukah diterbitkan SK setingkat Menteri yang mengatur / mengawasi / membatasi masuknya dan beredarnya arus impor produk jasa intertainment seperti tari topeng asal impor? Mengapa arus produk jasa tari impor dibiarkan merebak, menjamur dan merajalela di pasar enternainment demestik serta pempersempit segmen pasar yang seharusnya bisa dinikmati dan menghidupi para pengusaha kesil domestik Reog Ponorogo?. Tidaklah hal ini membahayakan kelangsungan produk jasa entertainment domestik Reog Ponorogo?

Souce: www.ponorogo.go.id


Reyog, Kesenian Rakyat Penjaga Tradisi

Patih Bujang Ganong meliuk-liukkan tubuhnya. Mencoba menghindar dari sergapan Singo Barong dan Dhadhak Merak. Sembari ketakutan, sosok bermuka merah dengan rambut acak-acakan di depan wajahnya itu berlari-lari menuju Raja Kelana Sewandana, yang sedang gundah gulana menanti cinta Putri Songgo Langit, Putri Raja Kerajaan Kediri. Mendapat laporan sang patih, Kelana Sewandana pun murka.


Senjata pusaka cemeti Pecut Samandiman pun diraih, dan digunakan Kelana Sewandana untuk menghajar Singa Barong dan Dhadhak Merak. Dua binatang yang awalnya ganas dan beringas itu pun tunduk. Dengan satu lecutan, Kelana Sewandana mengutuk mereka menjadi Reyog, binatang berkepala dua. Mitos awal mula bersatunya Singo Barong dan Dhadhak Merak itu diabadikan dalam pagelaran Reyog asal kota Ponorogo, kemudian dikenal sebagai Reyog Ponorogo.

Tidak jelas benar, kapan pertama kali kesenian Reyog Ponorogo dimainkan. Yang pasti, kesenian yang awalnya adalah kesenian rakyat itu selalu hadir dalam event-event khusus dan menjadi ikon kota seluas 1.402 m persegi itu. Terutama event pergantian tahun Jawa atau Grebeg Suro, yang sekaligus bersamaan dengan pergantian tahun Islam.

Tahun 2007 ini, Grebeg Suro di Jawa Timur dirayakan, 15-20 Januari. Hampir di setiap kota di Jawa Timur yang masih kental nuansa mengusung budaya Jawa, merayakan Grebeg Suro. Seperti di Mojokerto, Malang, dan tentu saja Ponorogo. Dibanding dengan peringatan Grebeg Suro di berbagai kota, peringatan di Ponorogo sedikit berbeda. Di tempat ini ada budaya Pesta Rakyat Reyog Ponorogo yang digelar secara massal, pawai kota, jamasan dan larung sesaji di Danau Ngebel. Semua dilaksanakan dalam satu rangkaian pesta.

Festival Reyog Ponorogo tahun ini diikuti oleh 31 kelompok Reyog yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai Lampung Propinsi Lampung, Tanjung Pinang Kepulauan Riau, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kutai Kertanegara, Jawa Tengah dan Ponorogo. "Respon yang begitu banyak membanggakan kami sebagai pelaksana," kata Bambang Wibisono, Kepala Dinas Kesenian Kabupaten Ponorogo pada The Jakarta Post.

Alun-alun Ponorogo bagaikan panggung raksasa pelaksanaan festival itu. Selama empat hari, masing-masing kelompok Reyog beradu keindahan gerak dan alunan musik tradisional Jawa dengan hentakan Ponorogoan. Kempul, Ketipung, Kenong, Angklong, gong dan selompret bertalu-talu. Seakan memacu goyang garang penari Reyog. Masyarakat pun menyemut, menyaksikan aksi Patih Bujang Ganong dan Kelana Sewandana melawan Singo Barong dan Dhadhak Merak.

Menjelang pergantian tahun Jawa adalah puncak Grebek Suro. Masyarakat Ponorogo menyambut kedatangan tahun barunya dengan pawai besar-besaran di seluruh pelosok kota. Sekaligus mengenang perpindahan pemerintahan dari Kota Lama di pinggiran Ponorogo, menuju Kota Baru di Kantor Kabupaten. Diawali dengan penyerahan pusaka kota ke makam Bupati pertama Ponorogo, Betoro Katong, ratusan orang bergerak ke pusat kota. Bendi dan kuda hias menjadi tunggangan. Kota yang terkenal dengan tradisi Warok/Pasukan kerajaan ini pun berpesta. Puluhan ribu orang berjajar di jalanan Ponorogo. Mereka menyambut iring-iringan benda pusaka dan pengiringnya, bagai menyambut pasukan perang yang datang ke kota mereka. Tepuk tangan dan sorak sorai membahana ketika tiba rombongan yang menjadi idola. "Saya paling suka dengan rombongan yang menghias diri sebagai Reyog raksasa," unkap Nardi, salah satu penduduk Ponorogo di sela-sela pawai itu.

Menjelang tengah malam, ribuan orang menyemut di alun-alun Ponorogo. Menyambut kedatangan tahun baru yang ditunggu-tunggu. Di pusat kota itulah, puncak perayaan pergantian tahun berlangsung. Pangung besar di ujung selatan alun-alun menjadi pusat perayaan. Di sekelilingnya, ratusan pedagang kaki lima menjajakan dagangannya. Berdampingan dengan sajian komedi putar. Semburan ratusan kembang api mewarnai langit, ketika tahun jawa 1939 resmi berganti menjadi 1940. "Semoga Ponorogo menjadi Kota Mukti Mibowo (berwibawa-red)," kata Bupati Ponorogo Muhadi Suyono. Usai sudah pesta pora. Saatnya seluruh berdoa. Di Danau Ngebel, doa terpanjatkan dengan diadakannya larung sesaji dan risalah doa. Di danau berjarak 25 KM dari pusat kota itu, kemeriahan upacara pergantian tahun berganti dengan keheningan doa kepada Sang Kuasa. Tumpeng raksasa setinggi dua meter dan doa-doa, menjadi tanda prosesi larung sesaji. Setelah diarak, tumpeng raksasa dan kotak doa dinaikkan perahu bambu, dan di tenggelamkan di tengah danau. Diiringi hentakan musik Reyog bertalu-talu.


Aspek Ekonomi Reyog Ponorogo

Di Surabaya ada 64 unit Reyog Ponorogo dengan berbagai kondisi, ada yang aktif dan sehat, ada yang sakit-sakitan dan ada yang sekarat tinggal tunggu waktu dijemput malaikat pencabut nyawa. Menurut Purwowijoyo (1985:14) dalam bukunya “Babad Ponorogo” dikisahkan kerajaan Wengker terletak di desa Kadipaten, berbatasan dengan desa Sentono 12 km dari Ponorogo, rajanya bernama Raden Wijaya. Pada tahun 1035 kerajaan Wengker ini diserang raja Airlangga dari kerajaan Kahuripan dan hancur. Berselang 200 tahun di Wengker muncul kerajaan Bantarangin, rajanya Kelono Soewandono, patihnya Kelono Wijoyo yang berwajah jelek namun sakti.

Kelono Soewandono kemudian melamar Dewi Songgolangit putri Raja Kediri Parbu Kertojoyo, diberi syarat yang berat yakni harus menggiring semua binatang di hutan untuk dikandangkan serta mencari manusia berkepala harimau. Soewandono marah kemudian berperang tanding melawan Patih Kediri Singoludro. Soewandono kalah muncul adiknya Kelono Wijoyo melawan Singoludro. Singoludro tergeletak kalah kepalanya berubah menjadi kepala harimau, kemudian datang burung-burung merak mengelilinginya. Untuk mengenang kejadian tersebut kemudian diciptakan oleh rakyat Ponorogo Tarian Dadak Merak dengan kepala harimau dan burung merak diatasnya yang sampai sekarang dikenal sebagai Reyog Ponorogo. Dari aspek Seni Budaya, maka Reyog Ponorogo merupakan salah satu kesenian asli produk domestik, dan benar-benar warisan nenek moyang kita sendiri, sedikitpun tidak terkontaminasi oleh seni budaya bangsa asing atau seni budaya impor. Di Surabaya ada 64 unit Reyog Ponorogo dengan berbagai kondisi, ada yang aktif dan sehat, ada yang sakit-sakitan dan ada yang sekarat tinggal tunggu waktu dijemput malaikat pencabut nyawa. Dari aspek Ekonomi, maka setiap unit Reyog Ponorogo adalah Pengusaha Jasa Kecil dan sebagai pengusaha tentu butuh pemasukan uang guna menutup biaya tetap maupun biaya tidak tetap dan dapat laba agar perusahaan bisa eksis dan jalan terus. Pemasukan uang diharapkan dengan menjual jasa entertainment atau jasa hiburan kepada masyarakat, dan konsumennya sementara ini adalah Instansi Pemerintah, BUMD – BUMN, Perusahaan Swasta, Perguruan Tinggi dan lainnya yang bentuk konsumennya adalah lembaga, instansi, atau badan hukum PT – CV, sedangkan konsumen perorangan atau individu masih jarang bahkan cenderung sangat kecil.

Konsumen perorangan / individu sebenarnya juga berpotensi menjadi sumber pemasukan uang yang dominan bagi sebuah unit Reyog Ponorogo, mengingat banyak perhelatan yang dilakukan oleh perorangan / individu dalam masyarakat, seperti acara Pernikahan, khitanan, HUT dan lainnya, “segan“ memakai Reyog Ponorogo sebagai entertainment guna menyambut dan menghibur para tamu. Dikatakan masih “segan “ sebab konsumen perorangan / individu umumnya merasa “kurang pas” jika memakai Reyog Ponorogo sebagai penghibur para tamunya, dengan pertimbangan karena Dadak Merak Reyog Ponorogo secara fisik terlalu besar untuk beraksi di dalam rumah / gedung tempat perhelatan, dan sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa kelompok Reyog Ponorogo merupakan komunitas dari orang-orang kasar, garang, pemabuk, pemarah, penjudi dan predikat lain yang bernada negatif. Semua anggapan dan asumsi itu TIDAK BENAR. Para pemain Reyog Ponorogo memang berpakaian hitam, berjenggot, berbadan tegap, wajahnya di make up menjadi kelihatan garang, hal ini dikarenakan mereka harus mengikuti pakem sesuai alur cerita sejarahnya. Namun, sebenarnya para pemain Reog itu halus tutur kata dan ramah budi pekertinya serta taat beragama, dan banyak diantara mereka berpendidikan S1 seperti sarjana kesenian, sarjana pendidikan, sarjana hukum, sarjana ekonomi, lulusan Pondok Pesantren dan SMU. Mereka adalah orang-orang terpelajar yang mengabdikan diri demi melestarikan seni budaya bangsa. Marilah kita introspeksi, bisakah kita berbuat seperti mereka, menari dengan memanggul Dadak Merak seberat 60 – 70 kg dengan gigitan gigi, pemain Jaran Kepang-nya dicambuki, makan paku, kaca, silet, biji padi dan alang-alang, ditonton banyak orang. Jangan lupa mereka berpotensi sebagai penghasil devisa bagi negara.

Turis-turis dari manca negara yang datang ke Indonesia selalu menanyakan dimana dan kapan bisa menonton atraksi Reyog Ponorogo. Unit Reyog Ponorogo sering digelar di berbagai pelabuhan contohnya Tanjung Perak guna menyambut kedatangan kapal pesiar berbendera asing, mereka beraksi di dermaga, sehingga para turis yang semula enggan turun, setelah Reyog Ponorogo beraksi mereka berbondong turun. Kemudian setelah menonton Reyog mereka naik taksi bayar pakai Dolar, belanja ke pasar Blauran, ke pasar Turi, ke Bonbin, bayar pakai Dolar, sehingga Dolar beralih ke tangan warga Surabaya kemudian ditukar dengan Rupiah ke bank Devisa, disetor ke Bank Indonesia, selanjutnya masuk ke Cadangan Devisa Negara.

Jadi peranan Reyog Ponorogo “mulia” dan “berat”. Tahukah anda bahwa karena beratnya beban tersebut, semua unit Reyog Ponorogo kesulitan dalam melakukan regenerasi, sebab anak-anak mereka tidak mau mengikuti jejak orang tuanya sebagai pemain Reyog., dan hal tersebut wajar, sebab Reyog Ponorogo sampai hari ini tidak menjanjikan prospek yang baik bagi mereka. Data penjualan (pemakaian) Reog di Surabaya sejak tahun 2002 – 2007 semakin menurun, misal Reyog Gembong penjualan per tahun berturut-turut sebanyak 35(kali)-30-27-24-20-18-15, Reyog Wahyu: 32(kali)-28-25-22-19-17-14, Reyog Singo:34(kali)-31-24-20-17-15-12, juga unit reyog lainnya menurun terus. Bandingkan kondisi ini dengan yang terjadi di entertainment lain seperti kalangan penyanyi dangdut, misal Inul yang menyanyi dengan kualitas suara biasa-biasa saja disertai goyang pinggul sudah dapat honor puluhan juta, sehingga generasi muda berduyun mengikuti berbagai kontes dangdut dan semacamnya.

Jika gejala ini merata di seluruh tanah air, maka Reyog Ponorogo akan musnah dan terhapus dari bumi Indonesia, sedang negara tetangga seperti Malaysia siap dengan kedua belah tangan terbuka menerima, menganak emas-kan dengan berbagai fasilitas, subsidi dan bantuan serta mengakui dengan bangga bahwa Reyog Ponorogo adalah seni budaya mereka?.

Kiranya kita semua tidak akan rela jika proyeksi tersebut benar-benar terjadi, dan harus dicegah sedini mungkin. Walikota dan Wakil Walikota Surabaya sudah merintis membantu pengembangan unit Reyog Ponorogo dengan mengijinkan unit-unit Reyog beratraksi di Balai Pemuda Surabaya setiap hari Minggu pagi pukul 10.00 – 11.00 WIB, juga telah memberi bantuan moril dan material yang tidak bisa disebut satu persatu, dimaksudkan mendorong pemasaran Reyog Ponorogo.

Yang masih ditunggu adalah bantuan dari instansi lainnya, baik BUMD – BUMN maupun pengusaha-pengusaha swasta, dan kalangan perbankan dengan bantuan kredit lunak dan mudah, serta dari warga Surabaya sendiri. Bantuan yang sangat dibutuhkan oleh Reyog adalah “peningkatan volume penjualan jasanya”, jadi pakailah Reyog Ponorogo sebagai entertainment atau penghibur tamu-tamu dalam segala event.

DR. Herman Budi Sasono, SE.,MM


Pemerintah Kabupaten Ponorogo telah memulai serangkaian kegiatan dalam rangka menyambut Grebeg Suro tahun 2008. Even rutin budaya ini telah dimulai dengan Simaan Al Qur’an pada hari Rabu, 10 Desember 2008 di Masjid Agung Ponorogo. Lalu mulai Senin 15 Desember 2008 diintruksikan kepada instansi di Ponorogo untuk berseragam khas Ponorogo, yaitu hitam-hitam bagi laki-laki & batik khas Ponorogo bagi wanita s/d Rabu 23 Desember 2008.

Pembukaan secara resmi Grebeg Suro 2008 & Festival Reyog Nasional ke XV Kabupaten Ponorogo dimulai pada Selasa malam Rabu, 23 Desember 2008. Secara ringkas jadwal kegiatan Grebeg Suro 2008 antara lain :

1. Upacara pembukaan diikuti Festival Reyog Nasional (FRN) ke XV & pentas Ludruk pada Selasa malam Rabu, 23 Desember 2008 di Aloon-Aloon Ponorogo. Grand Final FRN ke XV sekaligus Acara Penutupan Grebeg Suro 2008 pada hari Minggu malam Senin, 28 Desember 2008.

2. Pemilihan Kakang Senduk tahun 2008 di Graha Watu Dakon STAIN Ponorogo, mulai Kamis 18 Maret 2008 s/d Grand Final pada Minggu malam Senin, 21 Desember 2008 diiikuti dengan even Peragaaan Busana.

3. Lomba keagamaan meliputi lomba MTQ & seni Hadroh Kontemporer di Masjid Agung Ponorogo, mulai Jum’at 19 Desember 2008 s/d selesai.

4. Pameran potensi wisata di Aloon-aloon Ponorogo, mulai Selasa 23 Desember s/d Minggu 28 Desember 2008.

5. Lomba sinden, mulai selasa 23 Desember s/d Minggu 28 Desember 2008.

6. Pameran bonsai, pameran industri kecil & produk unggulan, pameran lukisan, pameran tanaman hias di Halaman Gedung Sasana Praja, mulai Minggu 21 Desember 2008 s/d selesai.

7. Pameran tanaman adenium di Gelanggang Olahraga (GOR) Singodimedjo, mulai Minggu 21 Desember 2008 s/d selesai.

8. Kirab Pusaka & Budaya Ponorogo (informasinya akan disemarakkan Bintang Tamu Dari Raja Kraton Yogya Sri Sultan Hamengkubuwono X), mulai dari Pusat Kota Lama (timur Pasar Pon/Makam Bathoro Katong) menuju Kantor Pemerintah Kabupaten Ponorogo (Pendopo Agung) pada Minggu Sore tanggal 28 Desember 2008.

Khusus untuk pertunjukan FRN ke XV di Panggung Utama Aloon-aloon Ponorogo, tahun 2008 ini digratiskan untuk pelajar dengan cara dijadwal bergilir kepada setiap sekolah. Tujuannya untuk lebih mendekatkan Budaya Grebeg Suro khususnya seni Reyog Ponorogo kepada generasi muda (pelajar) sehingga mereka lebih mencintai budaya warisan nenek moyang ini, begitu kata Drs. Gunardi, MM, Kepala Dinas Pariwisata Ponorogo.


Pelajar Gratis Nonton Festival Reyog

PONOROGO - Panitia Grebeg Suro tahun 2008 mulai melakukan terobosan. Terutama agar even tahunan ini bisa membawa nilai positif bagi pelajar dalam rangka melestarikannya. Jika tahun-tahun sebelumnya kurang mendapat minat karena harus membayar (dikarciskan), saat menonton Festival Reyog Nasional XV di panggung utama Alun-alun, tahun ini, digratiskan.

''Setelah kita melakukan kajian, panitia even Grebeg Suro tahun ini sengaja memberikan ruang tersendiri bagi pelajar untuk bisa menonton festival reyog secara gratis,'' kata Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Gunardi pada koran ini.

Bahkan, Bupati Muhadi Suyono langsung menyambut gembira ide tersebut. Dengan memberikan tempat bagi pelajar, tidak ada kesan festival reyog yang akan dimulai 24 Desember nanti hanya semata-semata untuk mengejar kontribusi pendapatan asli daerah (PAD). ''Bukan itu saja tujuan kami. Tapi kami juga ingin pelajar bisa melihat secara langsung sekaligus memahami secara dekat mulai awal hingga akhir cerita terjadinya reyog,'' tambah Gunardi.

Sedangkan teknisnya, lanjut Gunardi yang baru saja melontarkan gagasan adanya kampung reyog, akan diatur secara bergiliran untuk masing-mseing sekolah.

Sementara Puryono, Wakil Ketua Komisi D DPRD Ponorogo juga menyambut positif rencana menggratiskan pelajar agar bisa menonton FRN XV. ''Mestinya itu sudah dilakukan sejak dulu. Tapi nggak apalah terlambat, yang penting anak-anak sekolah bisa diberi kesempatan melihat tanpa harus mengeluarkan uang,'' jelasnya.

Disinggung soal rencana membuat kampung reyog, anggota dewan dari PAN ini minta agar dilakukan kajian lebih mendalam lagi. Sebab, untuk mewujudkan angan-angan tersebut memerlukan dana tidak sedikit. ''Akan berbicara lain jika sebelumnya sudah ada embrio beberapa rumah saja. Nanti tinggal mengembangkan saja,'' jelasnya. (dip/sad)
Sumber Radar Madiun


Usai Sengketa Dengan Malaysia Festival Reyog 2008 Digelar di Ponorogo

Setelah usai sengketa tarian Reyog yang sempat di klaim sebagai budaya Malaysia, Festival Reyog Nasional (FRN) XIV kembali digelar di Ponorogo, Jawa Timur. Sabtu (5/1) malam, pembukaan festival sebagai rangkaian upacara Grebeg Suro itu digelar di sela-sela recovery korban banjir di Ponorogo yang kini belum usai. Meski begitu, festival itu bakal berlangsung lebih meriah. Jumlah peserta even tahunan dalam rangka Grebeg Suro ini meningkat dibanding tahun lalu.

Jika tahun lalu hanya diikuti 31 peserta, FRN XIV ini diikuti oleh 42 peserta dari seluruh Jawa dan luar Jawa. Rangkaian Grebeg Suro sendiri, akan digelar 5-8 Januari 2008. tim Reyog dari Wonogiri, yang tahun lalu menyabet juga bertahan, tahun ini dilarang mengikuti perlombaan. "Meski juara bertahan Wonogiri tahun ini absen karena sudah tiga kali berturut-turut juara umum, namun peserta kabupaten lain mengaku siap dengan materi yang akan diusung lebih baik," ujar Luhur Karsanto, Sekkab Ponorogo.

Beberapa peserta di antaranya berasal dari Probolinggo, Gresik, Surabaya, Jember, Batu, Kediri, dan DKI Jakarta. Bahkan, beberapa tim dari luar Jawa juga bergabung, seperti dari Sumatera Selatan, Riau, Lampung, dan Kalimantan Timur. Dalam sambutannya dalam upacara pembukaan FRN XIV di Alun-alun Ponorogo, Sabtu malam lalu, Bupati Ponorogo Muhadi Suyono menegaskan FRN XIV digelar untuk melestarikan budaya Reyog sekaligus mendukung Visit Indonesia Year 2008 yang dicanangkan pemerintah RI. "Visit Indonesia Year sudah mempersiapkan 100 event nasional, salah satunya FRN," kata Muhadi.

Pelaksanaan FRN XIV sempat mendapatkan kritikan karena diselenggarakan di sela-sela recovery korban banjir Ponorogo yang belum tuntas dilakukan. FRN XIV dianggap menghambur-hamburkan uang. Luhur Karsanto mengaku heran dengan anggapan itu. Apalagi, jika dihubungkan dengan bencana banjir yang melanda sejumlah kawasan di Bumi Reog. "Saya kira itu terlalu dangkal jika bencana banjir dikaitkan dengan Grebeg Suro," tuturnya.

Menurutnya, pemkab melalui satkorlak bencana alam sudah melangkah untuk membantu para korban banjir. Termasuk mengevakuasi para pengungsi dan memberikan ruangan di kantor pemkab serta mendirikan tenda dapur umum. Kalau pun pasca banjir diperlukan langkah sebagai bentuk recovery akibat dampak banjir, menurut Luhur, sudah menjadi tugas daerah setelah melihat kondisi di lapangan. "Sehingga, tidak model digebyah uyah begitu. Dan, Grebeg Suro tetap harus berjalan karena ini dalam rangka melestarikan budaya kita," tegasnya.

Dalam upacara pembukaan, beberapa perwakilan Reyog dari luar Ponorogo menyerahkan bantuan untuk korban banjir. Meski besarnya tidak seberapa, namun bantuan itu diharapkan bisa meringankan beban Pemerinkah Kabupaten Ponorogo yang hingga kini masih berkonsentrasi untuk melakukan recovery. "Diakui atau tidak, memang festival ini digelar dengan keprihatinan, terima kasih atas segala bantuannya," kata Bupati Ponorogo Muhadi Suyono.


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More